Test Sidik Jari Itu Untuk Siapa Saja?

Selama ini kita mengandalkan tes Psikologi (psikotes) untuk mengukur kemampuan/keterampilan umum. Tes Psikologi memang dapat diandalkan untuk mengukur kondisi aktual seseorang. Kemampuan yang diperoleh dari hasil belajar (akademis).

Sayangnya, Psikotes bukan senjata pamungkas yang dapat mengakomodir semua pengukuran. Bagaimanapun, alat ukur ini punya sisi lemah juga. Misalnya, psikotes terbatas mengukur hasil belajar, bukan fokus potensi/bakat, psikotes tidak bisa dilakukan sejak bayi, psikotes juga kesulitan mengukur kemampuan aktual masyarakat pra-literasi atau masyarakat pedesaan yang kurang terpapar materi akademis.

Masyarakat di pedesaan bisa di skor ber-IQ rendah, karena psikotes cenderung mengukur kemampuan di atas kertas (paper and pencil test), yang berbasis pada pemecahan soal matematika dan bahasa.

Demikian juga anak-anak yang masih kecil, jika telat dikenali potensinya, akan telat juga distimulasi. Stimulasi pada fase golden-age bisa terlewat begitu saja, jika telat mengenali bakat, alih-alih tergerus oleh minat trends lingkungan pergaulan.

Hasil pengukuran psikotes juga sulit dipahami oleh masyarakat awam. Dan skornya bisa berubah-rubah terus, seiring stimulasi/proses pengajaran. Materi yang berbasis soal akademis dapat dipelajari hingga dapat mendongkrak skor IQ. Sehingga dibutuhkan beberapa alat bantu lainnya agar dapat terukur secara reliable.

Lalu, bagaimana dengan orang dewasa? Masih perlukah melakukan pemindaian sidik jari? Masih adakah manfaatnya? Bukankah sudah telat stimulasi? Apakah seseorang harus memulai kembali dari titik nol untuk mengasah bakat dan potensinya sesuai hasil pindai sidik jari?

Bakat adalah suatu pemberian, bawaan (genetik) dimana seseorang diberi kemudahan dalam melatihnya. Bakat dapat berkembang menjadi hobi karena menjadi sarana rekreatif yang dapat meminimalisir stress.

Bagaimana dengan potensi lainnya? Contoh kasus, seorang klien yang merasa frustrasi karena sering gagal dalam komunikasi verbal. Hal ini menyebabkan ia sering berselisih pendapat dengan orang lain. Relasi dengan lingkungan bermasalah. Bahkan merembet pada keharmonisan rumah tangga. Karena sering bermasaalah, akhirnya ia cenderung menarik diri dan pesimis akan disukai orang lain.

Ketika dilakukan pemindaian ternyata betul; proporsi keterampilan komunikasinya paling kecil. Demikian pula interpersonalnya rendah. Tapi apakah data ini menjadi pembenaran baginya untuk terus menutup diri dari relasi sosial?
Setelah dikombinasi dengan potensi lain, ternyata ditemukan solusinya. Klien memang memiliki keterbatasan komunikasi verbal dan sosial, tapi ia mampu mencari bentuk komunikasi lain, yaitu, dengan menulis. Klien ini kemudian menjadi penulis produktif. Gagasannya ‘tidak pasaran’ karena berasal dari proses refleksi diri, setelah mengalami banyak hambatan.

Jadi, bagi orang dewasa pun, tak ada alasan untuk tidak melakukan pindai sidik jari. Di Allsmart, klien bisa melakukan konsultasi dengan para psikolog untuk menemukan potensi istimewa; yang dapat mengubah hambatan menjadi peluang eksplorasi diri. Karena mengenal potensi diri adalah bagian dari mengenal maksud penciptaan diri.

Share on twitter
Share on whatsapp
Share on facebook